Sunday, 3 April 2011

Peluang, Risiko, Perubahan dan Ketidakpastian dalam Dinamika Ekonomi Bisnis

Oleh : Edmond F. La'lang (pemerhati ekonomi dan lingkungan hidup)

         Di dalam istilah pasar finansil terdapat sifat manusia dalam menghadapi risiko yang akan timbul dalam setiap aktifitas kehidupannya yaitu Risk Averse, orang yang selalu menghindari risiko dan Risk Taker, orang yang senang menghadapi risiko dan orang yang berhati-hati dalam menghadapi risiko. Di dalam dunia bisnis, setiap upaya mempunyai risiko (ancaman) dan peluang untuk berkembang dan maju yang tergantung kepada jumlah modal, jumlah kredit, mutu SDM, penguasaan teknologi produksi dan informasi, peluang dan pangsa pasar, strategi bisnis yang tepat, kondisi ekonomi dan regulasi negara tempat berbisnis, negara tujuan ekspor, tingkat persaingan, kemampuan CEO dan manajemen, penguasaan teknologi industri, teknologi informasi dan komunikasi dan banyak faktor lainnya, termasuk budaya, sosial dan lingkungan hidup (kondisi alam dan iklim). Faktor-faktor ini semestinya dimasukkan sebagai variable dari kreativitas dan semangat manusia yang akan selalu ingin maju melakukan terobosan, innovasi dan penciptaan produk baru, sehingga akan selalu terjadilah berbagai perubahan untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam sektor konsumsi dan pencapaian prestasi manusia. Hal inilah yang menimbulkan mitos bahwa satu-satunya yang pasti adalah perubahan dan ketidakpastian itu sendiri. Sebenarnya perubahan itu dikendalikan oleh needs and wants individu dari Piramida Maslow untuk mencapai suatu  aktualisasi diri yang optimal dari individu, perusahaan, kelompok masyarakat, Negara dan aliansi Negara seperti AFTA, NAFTA, APEC, CAFTA, Masyarakat Ekonomi Eropa dan banyak lagi aliansi sesuai kepentingannya masing-masing untuk menjadi suatu kemajuan yang akan mewujudkan suatu dinamika peradaban manusia. Berbagai kebutuhan ini akan diterjemahkan oleh produsen untuk memenuhi kebutuhan dan selera konsumennya yang bersifat "Product Driven". Dan juga ada produsen membuat sebuah produk masa depan untuk mengarahkan dan melebihi harapan dari needs and wants konsumen dengan berbagai kreatifitas, innovasi dan terobosan terhadap daya guna dan hasil guna produknya yang belum pernah diproduksi sebagai sebuah lompatan teknologi yang lebih berguna di masa depan dan dikenal sebagai "Product Driving" yang telah banyak dilakukan terutama di sektor industri elektronik dan teknologi informasi.

        Dengan demikian, setiap bentuk bisnis akan selalu memperhitungkan semua potensi diri sesuai analisa SWOT dalam sebuah criteria organisasi dari Boston Consulting Group dalam dunia penuh tantangan dan persaingan sehat dan fair, baik dengan Comparative maupun Competitive Advantage (Porter, 1992). Oleh makin berkembangnya dunia ini, baik dari kemajuan ekonomi-bisnis, innovasi teknologi, informasi dan komunikasi serta kemajuan manusia dari segi pendidikan, status sosial dan kesejahteraan, maka akan selalu tercipta peluang dan tantangan bisnis lokal, nasional, regional dan global untuk dimanfaatkan dengan melihat kondisi SWOT dan TOWS (Kertajaya dan Kottler, 2001) dari setiap entitas bisnis. Dengan makin banyak dan ragam dari bisnis ini di dunia akan memberikan suatu aktifitas ekonomi dalam organisasi yang makin besar, kompleks dan jaringan global. Semua ini akan melibatkan berbagai sumberdaya finansil, SDM, SDA, rekayasa teknologi dan asset fisik buatan manusia yang membentuk sebuah dunia yang terus berubah dan berkembang pesat secara dinamis. Inilah yang dikatakan sebagai Bio-Cycle atau Circle of Life (Siklus atau Lingkaran Kehidupan) dari kebudayaan manusia sebagai mahluk biologis, berotak cerdas, bermental psikologis dan berdimensi sosial dalam segala bentuknya untuk mencapai jati diri manusia seperti yang digambarkan dalam Piramida Maslow dengan cara bekerja keras, berkreasi dan innovative. Dari berbagai bentuk pertumbuhan dinamis menuju kesejahteraan (prosperity), tentunya secara hukum alam akan selalu mengalami suatu kenaikan, gejolak, turbulensi, pasang surut, alunan dan fluktuasi layaknya pergantian siang dan malam serta naik turunnya kondisi medan datar hingga bergunung. Hal ini akan mengikuti hukum alam dalam bentuk rotasi bumi dan pergerakan elips bumi ke matahari yang membentuk musim kemarau dan hujan di daerah tropis dan musim semi (spring), musim panas (summer), musim gugur (fall) dan musim dingin (winter) di subtropis dan kutub. Dan adanya gaya gravitasi bumi, pertumbuhan biologis dan lingkungan hidup yang akan menghasilkan suatu rangkaian siklus hidup manusia di dalam ruangnya menurut perjalanan waktu yang akan bergantung kepada kemampuan dari manusia untuk beradaptasi dan berkonsolidasi untuk bertumbuh pesat (tubuh dan organisasinya). Bio-cycle ini berbentuk kebangkitan (improvement and recovery) hingga ke puncak (peak) yang akan mengalami suatu penguatan diri (self reinforcing) yang akan selalu mengikuti hukum kenaikan yang makin berkurang (The Law of Deminishing Return) untuk menurun kembali (recession).  Pada fase penurunan inilah yang sering dikatakan sebagai suatu “risiko” yang menimbulkan banyak kerugian, kegagalan, kebangkrutan dan berbagai korban materi lainnya.  Seringkali pada puncaknya (peak) manusia akan berupaya semaksimal mungkin untuk naik terus yang cenderung melawan hukum alam dengan melakukan berbagai cara, termasuk menghabiskan dan merusak sumber daya alam, akan tetapi hukum alam tetap unggul dan akan berakibat fatal berupa suatu kondisi kejatuhan (catastroph).  Jika manusia bersaha untuk tumbuh makin tinggi, maka makin besar juga hukum alam gravitasi akan membuatnya jatuh bebas (free fall) yang memakan banyak korban harta, asset dan jiwa dalam bentuk krisis ekonomi, bencana alam, penyakit, kemiskinan dan bencana sosial dan politik. Jadi manusia janganlah selalu berusaha melawan hukum alam dengan bertindak semena-mena terhadap alam, mengeruk habis sumberdaya alam non renewable dan renewable resources, keserakahan di bidang finansil dan perbankan serta penindasan dan exploitasi terhadap sesamanya manusia. Hal ini akan membentuk sebuah krisis besar, seperti yang dunia alami pada krisis ekonomi subprime mortgages di USA dengan akibat yang bersifat snowballing ke seluruh dunia dan berdampak sistemik di negara-negara maju yang membeli subprime mortgages beserta derivatifnya serta credit default swap dalam berbagai tingkatan.

           Kondisi siklus, termasuk di bidang ekonomi dan bisnis yang akan membentuk suatu ketidakpastian (uncertainty) akibat dari perubahan budaya manusia dalam interaksinya dengan alam dan sesamanya manusia untuk  bertumbuh  dan  maju  di bidang ekonomi-bisnis, politik, sosial, budaya, lingkungan hidup di berbagai negara. Dari sini manusia dengan segala kemampuannya melakukan  introspeksi berupa Learning by Doing dengan Learning Curvenya untuk melakukan perbaikan – perbaikan (improvement), padahal sebenarnya yang juga perlu dilakukan adalah Learning by Time dengan Time Curve (Timing and Momentum) dalam arti belajar dari sejarah, kekinian dan waktu yang akan datang (visi, intuisi, indera VI, prediksi). Hal inilah yang sering dikeluhkan pebisnis dan ekonom, khususnya bahwa ada ketidakpastian dari fluktuasi nilai mata uang maupun kondisi bisnis secara umum untuk menentukan strategi target pertumbuhan, persaingan, pangsa pasar, potensi laba dan rugi, pembiayaan, fluktuasi tingkat harga bahan baku dan penolongnya.  
          
            Sebenarnya jika ditinjau dari aspek biologis berdimensi ke 3, semua kondisi siklus akibat perubahan tersebut dapat diantisipasi dan diramalkan alunannya dengan tepat, layaknya kita melakukan surfing (berselancar di pantai) atau hiking (naik ke perbukitan) dengan baik dan bukannya naik roller coaster tanpa mampu berbuat sesuatu untuk menghindari kondisi gejolak (turbulencies). Itulah siklus alami sebagai hasil kinerja manusia yang dipengaruhi oleh hukum Tuhan (supernatural), hukum alam (biologis, biokimia dan biofisika) dan gaya gravitasi (fisika).  Sistim biologis dapat mengetahui dengan pergerakan ruang dan waktu secara akurat (memakai rumusan perhitungan berdimensi 2 – 3) dari kinerja siklus tersebut, kapan akan naik, kapan ada di puncak dan kapan harus turun kembali secara alamiah dan berirama (Bio-Ritmik).  Jadi kita tidak perlu melawan hukum alam itu sendri, tetapi sebaiknya kita nikmati saja warisan alam ini secara bijaksana sebagai karunia Tuhan Pencipta atau menurut kata Gde Prama, sebaiknya manusia bagaikan sebuah sungai yang mengalir dari hulu sampai ke hilir dan bermuara ke laut dengan damai tanpa harus menggerutu dan membandel. Jadi ketidakpastian (risiko) itu sendiri adalah karena manusia tidak mau melihat dunia dan alam ini secara lebih baik dan benar, karena sifat manusia yang ambisius, tak terkontrol dan keserakahan untuk terus naik menjadi lebih kaya, hebat dan popular, tetapi apalah daya kemampuan manusia hanya terbatas (bagai pungguk merindukan bulan, apa daya tangan tak sampai), maka hukum alam gravitasi akan mendorongnya kea rah bawah. Makin kuat self reinforcing, maka makin kuat dan keras daya jatuhnya.  Untuk  itulah manusia perlu mempelajari dan mengadopsi berbagai hukum alam dari sistim biologis, biokimia dan biofisika terhadap Carrying Capacity (Daya Tampung Alam), The Law of Deminishing Return, dan berbagai hukum alam lainnya, disamping hukum dan aturan main (regulasi) yang dibuat oleh manusia (negara dan organisasi) untuk dipatuhi oleh manusia sebagai pelaku ekonomi, bisnis, sosial dan politik.

        Carrying Capacity merupakan suatu kendala daya dukung dan daya tampung terhadap berbagai kegiatan alam (natural bio-cycle) dan manusia (ekonomi, bisnis, sosial dan politik) yang saling berinteraksi yang akhirnya akan menghasilkan kondisi kejenuhan (saturated) di lingkungan alam, termasuk di kegiatan ekonomi-bisnis. Carrying capacity akan selalu menimbulkan kondisi bottleneck dan crowded yang mendorong manusia untuk melakukan suatu penguatan diri (self reinforcing). Manusia hanya melihat dan melakukan visi dari sisi dirinya sendiri yang bersifat layaknya si pungguk, katak dalam tempurung, berpikir sempit dan egois, sehingga tak mampu dan mengerti akan kekuasaan alam semesta raya (supernatural) dan alam dunia (natural)  yang akan membentuk alunan, fluktuasi dan gejolak sebagai wujud dari bio-ritmik manusia. Bio-ritmik ini akan membentuk dan mempengaruhi kondisi fisiologis dan psikologis manusia dalam bertumbuh, berprestasi, bersaing, berinovasi. Kekuasaan dan kekuatan supernatural dan naturallah sebagai hirakhi dalam jajaran kekuasaan duniawi ini yang akan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia di dunia, dimana kita hanyalah menjalanilah secara benar sesuai ajaran kebenaran Tuhan menurut agamanya masing-masing. Tuhan telah menciptakan dunia ini beserta sistim alam untuk dipahami dan dipatuhi. Manusia hendaknya tidak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi dari sistim buatannya sendiri dalam bentuk kemajuan ekonomi, kehebatan teknologi industri dan kekuatan senjatanya yang suatu saat akan jatuh dan malahan akan runtuh oleh kekuasaan supernatural dan natural.  Dunia manusia adalah bawahan saja dalam kekuatan dan kekuasaan manusiawi dalam bentuk organisasi-organisasi negara, agama, bisnis, sosial, dan politik untuk dijalankan secara bijak, adil dan merata. Jadi menurut hukum biologis bahwa alunan dan fluktuasi adalah justru suatu “Kepastian (Certainty)” dalam pengertian pasti ada saat naik dan pasti ada saat turun untuk dinikmati dan diantispasi dalam bentuk pencegahan atau tidak melanggar aturan alam serta memperbaiki sesuai analisa SWOT dan TOWS dari kondisi ekonomi – bisnis (external) dan kondisi perusahaannya sendiri (internal) dan selalu mengikuti alunan bioritmik alamiah, sehingga akan selalu terhindar dari krisis dan bencana (preventive ways) dan bukan lagi problem solving setelah terjadi krisis dan bencana yang pasti telah menimbulkan dampak risiko dengan kerugian yang sangat besar.
http://bioekonomi-lingkungan.blogspot.com

Teori Reflecsity dari George Soros, Teori Econophysics dari A. Tannous dan E. Fessant, Butterfly Economy (Teori Semut & Kupu-kupu) Paul Omerod, Elliot Wave Model (Socionomic), Astronomy Financial, Astronacci (Astronomy Fibonacci) serta Teori Bio-Economic (Edmond F. La’lang).

Oleh : Edmond F. La'lang (pemerhati ekonomi dan lingkungan hidup)
 
           Teori Reflecsitas dari Georges Soros mengatakan bahwa pertumbuhan akan me- ngalami peningkatan secara linier yang sering dibubble atau dihargai melebihi nilai wajarnya demi mencapai pertumbuhan dan keuntungan yang berlebih dengan memakai  segala daya upaya, strategi dan dana yang akhirnya mencapai puncaknya pada ketinggian harga tertentu. Pada pertumbuhan linier (bullish) ini akan tercapailah “tahap prosperity” yang sering membuat manusia makin bergairah, serakah dan percaya diri untuk terus bertumbuh, meski disadari atau tidak akan menimbulkan efek ketagihan mirip narkoba yang selalu mencoba naik melebihi tingkat kemampuan diri sendiri dan lingkungannya (self and environment carrying capacity) menurut teori Bio-Economic yang bersifat overdosis yang meracuni atau overbought. Sudut lereng kenaikan harga menjadi sangat terjal yang dicapai hanya dalam waktu singkat (high return high risk) yang menyebabkan kondisi tubuh atau mesin bursa dan ekonomi akan cepat memanas (overheating).
           Menurut metode Econophysical Tannous dan Fessant adalah mirip rangkaian listrik yang terus memberikan power untuk bergerak dan bekerja, serta menurut teori Butterfly Economic Paul Omerod adalah aktivitas kupu-kupu mencari madu bunga tumbuhan (mirip buga kredit yang terasa manis madunya atau gerombolan semut yang berkeja dan berjalan beriringan sibuk mencari makan dan gula tanpa kenal lelah. Setelah mencapai puncaknya, akan terjadilah proses “self reinforcing (penguatan diri)” dari Reflecsity( Georges Soros), kelebihan beban rangkaian listrik teori econophysical (Tannous dan Fessant), penumpukan gerombolan semut pada satu area sempit (bottleneck) teori Butterfly Economic (Paul Omerod), peak carrying capacity teori Bio-Economic  yang dapat menghabiskan sebagian besar dana, waktu, peluang dan korban harta demi untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi, tetapi ternyata tidak dapat tercapai, meski telah dilakukan berulang kali. Teori Elliot Wave yang melihat perjalanan grafik secara decade (10 – 30 tahun) dari sebuah proses psikologi dan sosiologi massa. Financial Astronomi yang berdasarkan pola pergerakan antar planet yang akan mempengaruhi pola aktivitas manusia, termasuk di pasar finansil dan Astronacci adalah pemanfaatan ilmu astronomi dan metoda Fibonacci untuk mengetahui pergerakan dan fluktuasi dari pasar saham, forex dan komoditi.
         Proses ini adalah mirip konsolidasi manajemen dan sideways ekonomi, tetapi umumnya para pelaku bisnis dan ekonom kurang tahu, bahkan tidak menyadari kondisi kritis ini dengan terus berekspansi bisnis, membeli saham pada harga tinggi, mengambil kredit berisiko tinggi, - karena berasumsi bahwa kondisi pertumbuhan ekonomi, pangsa pasar dan bursa saham masih tetap menjanjikan pertumbuhan yang prospektif. Jika telah kehabisan dana, daya dan peluang untuk naik, mulailah terjadi proses nervous, frustrasi, kebingungan pada kondisi crowded (bergerombol) yang menimbulkan kemacetan, udara panas ruangan dan banyak rumors yang membingungkan. Dan pada akhirnya terjadilah catastroph (Georges Soros), tanah longsor, snowballing, body fatique and shock (Bio-Economic), gempa bumi (Tannous dan Fessant), dan berhamburannya semut oleh gangguan tangan dari luar, dimana harga saham maupun pertumbuhan ekonomi menjadi tumbang dengan proses penurunan yang drastis atau terjadi gerakan free fall oleh gaya gravitasi untuk me- nurunkan semua massa dan asset dari ketinggian puncaknya hingga ke level bawah (base) ke tempat dimana level dia mulai naik.
          Disinilah terjadi proses hukum The Law of Deminishing Return (hukum kenaikan yang makin berkurang), dimana jika kita naik mirip sebuah lintasan peluru (ilmu mekanika) pada sudut terjal (lebih dari 70 derajat atau lebih dari lereng 45 %), katakanlah dalam waktu tempuh 1 jam pada ketinggian (Y) 1.000 m maka kita akan jatuh cepat oleh gaya gravitasi pada jarak pendek 200 m (X) dari mana kita mulai naik (titik 0). Dengan demikian segala daya upayadan kinerja manusia dalam kurun waktu tertentu akan terkoreksi secara alami pada tempat disekitar ketinggian dan lokasi dimana dia mulai melakukan pendakian, usaha dan kegiatan yang telah menghabis- kan banyak dana, usaha dan waktu yang berarti kembali pada titik Break Even Point saja. Yang mengalami kerugian adalah investor dan perusahaan yang tidak waspada, tidak hati-hati (prudential), tidak professional dan tidak efesien dalam melakukan pengelolaan dana, usaha dan kinerja tanpa mau tahu kondisi siklus bisnis manusia yang bukan saja ha- nya digerakkan oleh tangan-tangan manusia saja, tetapi juga dikendalikan oleh “Invisible Hand” dari kekuatan natural dan supernatural. Secara jangka panjang dalam ruang dan waktu, pengaruh kekuatan natural dan supernatural akan sangat dominan dalam mempe- ngaruhi dinamika kehidupan manusia di semua aspek kehidupannya, termasuk ekonomi.
http://bioekonomi-lingkungan.blogspot.com

*Sosialisme Modern dalam sbuah Masyarakat Modern*

*SOSIALISME  MODERN  DALAM  SEBUAH  MASYARAKAT  MODERN*
Oleh : Edmond F. La'lang (pemerhati ekonomi dan lingkungan hidup)

          Paham ini berdasarkan ideologi sosialisme  yang  berlandaskan semangat  rasa kebangsaan dan kebersamaan. Sistim sosialisme ini lebih menyandarkan diri pada keadilan sosial yang dapat dicapai oleh seseorang secara demoktaris (mirip dengan sosialisme demokrat yang dikembangkan oleh Bung Syahrir yang mungkin agak berhaluan kiri dan mirip dengan yang dikembangkan di negara-negara Eropa Timur sebelum tumbangnya Uni Soviet). Pengelolaan ekonomi, sosial dan politik lebih banyak dikembangkan, dibina, diawasi dan diarahkan oleh negara dimana setiap orang tidak berhak untuk menikmati kesejahteraan secara bebas, tetapi diatur dalam sebuah mekanisme kepartaian. Ternyata yang menikmati fasilitas negara, umumnya adalah anggota Partai berkuasa (Komunis, tak boleh ada partai lain dan tak demokratis) serta pejabat birokrasi dan militer negara dari pusat hingga ke daerah.
        Sosialisme modern adalah sebuah ideologi yang bertujuan untuk membina, mengembangkan dan mensejahterahkan masyarakatnya secara demokratis. Setiap orang mempunyai hak untuk menikmati kesejahteraannya secara adil (bukan merata atau pinter goblok mendapatkan perlakuan, penghargaan dan pendapatan yang sama) sesuai kontribusi dan prestasinya di segala bidang kehidupan. Masyarakat sosialis ini akan membentuk suatu kehidupan ekonomi yang saling menunjang dan mengisi tanpa harus memakan dan mematikan pesaingnya secara idak adil, karena keunggulan modal, teknologi, manajemen dan keterampilannya. Untuk itu, sistim ini akan mendorong pihak swasta untuk berperan dalam bidang ekonomi, politik dan sosial sedang negara hanya sebagai fasilitator, regulator, pembina dan pensupport terhadap segala aktivitas warganya. Setiap pengusaha harus dapat membina bawahan, orang lain (pengusaha golongan UKM) dan rakyat miskin untuk diberdayakan. Misalnya saya seorang pengusaha sukses akan membina sejumlah orang kecil yang kurang mampu dalam permodalan, pendidikan, keterampilan bisnis dan keahlian teknologi dengan memberikan modal, membina dan mengembangkan suatu bisnis sesuai kemampuan dan entitas bisnisnya (industri kecil, jasa dan perdagangan) agar dapat memperoleh keuntungan seoptimal mungkin, tapi bukan maksimalisasi profit seperti dalam mindset ekonomi kapitalistik yang tentu akan selalu berjuang keras untuk mendapatkan keuntungan besar dengan pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Ekonomi kapitalistik bersifat survival of fittest (siapa yang kuat dia yang menang) dan agent of development (kerjanya membangun bisnis secara massif dan ekspansif ke seluruh dunia dalam bentuk perusahaan Multinasional dengan mengakuisisi berbagai entitas bisnis di seluruh dunia dengan membentuk Global Corporation yang menggurita dan sering justru mematikan pengusaha kecil di negara ekspansinya. Sedang sistim ekonomi sosialisme modern adalah bersifat ramah lingkungan, profit yang optimal untuk tidak membunuh pesaingnya, struggle for life (perjuangan hidup di sebuah hutan lebat dimana semua species tumbuhan dan hewan dapat hidup dengan damai, sejuk dan harmonis untuk membentuk suatu jaringan energi atau bio-trophic level yang lestari dan subur / kaya tanpa harus merusak tatanan ekosistim lingkungan alam dan sosialnya). Pengelolaan kebijakan ekonomi semestinya bersifat "economic manageable" yaitu semua entitas bisnis harus memahami suatu konsep hidup berdampingan secara damai tanpa harus berebutan bagaikan hewan buas yang banyak terjadi di sebuah wilayah gurun yang panas, gersang, miskin unsur hara dan tanaman untuk membentuk sebuah hutan yang damai, sejuk dan sejahtera. Sistim ini akan membuat para entitas bisnis akan tahu diri dan mau menahan diri untuk ekspansi, tidak kanibalisme, tidak ber KKN (sogok dan upeti) untuk menang secara tidak adil , tidak bermental instant dan pemungut rente yang menghisap peluang orang lain.  Juga dapat mengetahui kapan terjadinya sebuah pertumbuhan ekonomi yang memanas (overheating) dan berbusa (bubble)  dengan mengerem kegiatan bisnisnya dan segera melakukan take a rest untuk konsolidasi tanpa harus melakukan perang harga, perang strategi, perang bajak membajak CEO dan karyawannya. Dengan demikian akan terjadi suatu dinamika ekonomi yang damai, sejuk dan harmonis yang saling mengasihi, saling mendukung, saling menghormati dan menghargai.
          Selanjutnya jika pengusaha kecil tadi telah sukses (up liner), maka dia akan merekrut orang lain untuk dibina sekitar 3 – 5 orang (down liner) seterusnya, jadi mirip dengan model pemasaran Multi Level Marketing (MLM) tapi tanpa harus mendapatkan suatu fee atas jasanya merekrut orang lain, dan kalaupun ada hanya boleh mendapatkan fee sekitar 2 – 5 % dari keuntungan bersihnya tanpa harus mengembalikan modal bantuan/keditnya. Dengan demikian, sang up liner tentunya tak perlu mengharapkan suatu payback atas modal dan pembinaan yang telah dilakukannya (berjiwa sosial dan dermawan), seperti juga saya tak mengharapkan fee dari up liner yang telah saya rekrut sebelumnya. Demikian seterusnya, sehingga akan membentuk sebuah jaringan yang besar, luas dan sejahtera. Saya dan up liner tentu berusaha agar down liner dapat sukses dalam bisnisnya. Pemilihan down liner tanpa KKN, pilih bulu ras, agama, kesukuan dan golongan, tapi menilainya dari sikap mental baik dan tangguh, berjiwa  sosial , mempunyai kapabilitas dan keterampilan bisnis, visioner dan tidak egois dan serakah untuk menjadi kaya raya dengan berbagai cara KKN.   Sistim ini bersifat mirip aliran air dalam sebuah sistim DAS (Daerah Aliran Sungai) dari hulu (up liner) menuju ke hilir (down liner) dalam jaringan sabuk (belt) luas yang membentuk sebuah komunitas masyarakat yang sejahtera, bersistim sosialisme modern (mirip Sosialis Skandinavia) serta berjiwa religius atau mirip dengan sistim lautan yaitu Blue Ocean Strategy  dimana tanpa perlu ada laut berwarna merah berdarah akibat persaingan keras dan juga tidak membentuk suatu kondisi laut yang bersifat  "Tropical Thermocline Layer" dalam arti adanya suatu lapisan suhu panas yang menghambat naiknya bahan kaya nutrient dari bawah untuk membuat sebuah perairan menajdi lebih kaya, ini mirip dengan kondisi ekonomi global dan nasional yaitu kelompok negara / perorangan kaya makin kaya dengan korporasi globalnya dan kelompok negara/perorangan miskin yang makin miskin. Juga globalisasi tidaklah harus dilihat dari persepsi negatif, karena Tuhan telah menciptakan dunia ini secara global dan saling berhubungan dengan harmonis melalui migrasi penduduk selama berabad-abad yang lalu, migrasi ikan pelagis dari kutub menuju subtropis dan subtropis ke katulistiwa, terbangnya migrasi burung subtropis benua dalam pergatian musim, migrasinya ikan laut dingin dari saat matang telur (maturity) menuju ke laut sedang untuk memijah (spawning) dan anak-anaknya akan berjuang dalam pembesaran dalam perjalanan panjang menuju laut dingin untuk menjadi dewasa kembali dalam perjalanan ribuan kilometer sebagai salah satu aspek bio-life cyclenya. Jika hewan burung, ikan, spora tanaman, pergerakan angin dan air, saja dapat berglobalisasi secara alamiah, maka anehlah jika manusia yang telah diberi otak cerdas dan nurani yang hebat malah takut berglobalisasi dan senang menjadi "jago kandang" serta tak mau bermigrasi apalagi berbisnis ke seluruh dunia asal dengan cara baik dan bersih. Bahkan menurut saya, manusia tidak lagi harus berglobalisasi, tapi sudah harus bergalaxisasi dengan sistim “Galaxinet” dan bukan lagi berinternet dengan memakai otak yang tentu lebih canggih dan cerdas dari sekedar sebuah komputer dan robot biasa. Hal in tentu telah dilakukan oleh negara-negara maju untuk menjelajahi ruang angkasa Bima Sakti dan Alam Semesta Raya (Galaxi) untuk mengetahui rahasia alam semesta raya ciptaan Tuhan. Sebenarnya manusia justru belum canggih dalam mengetahui rahasia alam bumi, tapi justru malah merusak lingkungan hidup kita dengan mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan tanpa rasa tanggung jawab terhadap kelestarian bumi ini dengan menimbulkan Global Warming, naiknya permukaan air bumi, bencana banjir, makin bergolaknya bawah bumi dalam bentuk gempa bumi dan gunung meletus, badai angin, badai suhu panas dan suhu dingin, wabah penyakit aids, flu burung dan flu babi, dan lain-lain. So, "don’t kill the world" (song by Boney M) and "heal the world" (song by Michael Jackson). Dan inilah esensi dari sebagian metoda Bio-Economic yang kami kembangkan sejak 1993-1994. Jika telah terbentuk berbagai sistim Daerah Aliran Sungai yang wilayahnya didukung oleh sebuah "Hutan Lebat yang Lestari" yang membentuk sebuah hunian lingkungan ekosistim yang sejuk, damai, harmonis dan subur, maka mereka akan membentuk suatu masyarakat modern yang sejahtera dan berkeadilan yang ramah lingkungan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa sesuai dengan ajaran Pancasila dan kalau di negara lainnya sesuai dengan azas negara mereka sendiri. Inilah sebuah ide konsep untuk membentuk suatu "TATANAN DUNIA BARU" (New World Order) yang agak mirip dengan ide George Soros untuk membentuk sistim Open Society di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Tetapi agak berbeda dengan model dari Presiden Obama untuk membentuk tatanan dunia baru terutama di bidang politik dan ekonomi yang diatur dan dikendalikan oleh negara yang justru mengarah ke sistim sosialisme kiri Eropa Timur, seperti kasus Bail Out ,  Cash for Clunkers, Stimulus dan UU Health Care serta sistim perpajakan yang baru, dan ternyata banyak menuai kritik keras dari sebagian masyarakat Amerika Serikat sendiri dan dunia.